Oleh Mahdi dan Ireng Maulana

Tahun 2024 merupakan tahun terpanas di dunia. Untuk pertama kali, kenaikan suhu bumi tahun 2024 melampaui 1,5 derajat Celcius, seperti yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris tahun 2015, dimana semua negara dan pemangku kepentingan mengupayakan untuk membatasi kenaikan suhu hingga 1,5°C di atas tingkat pra-industri. Saat kenaikan suhu global di atas 1,5 derajat Celcius, tentu saja kondisi ini merupakan sebuah tanda bahaya bagi kelangsungan kita di muka bumi ini.

Seperti dilaporkan www.voaindonesia.com tanggal 14 Januari 2025, Carlo Buontempo, Direktur Badan Perubahan Iklim Copernicus UE, mengatakan, “Setiap bulan, dari Januari hingga Juli lalu, telah menjadi bulan-bulan terhangat yang pernah tercatat. Selain Badan Perubahan Iklim Copernicus UE, enam badan iklim lain merilis data temperatur tahun 2024 pada 10 Januari 2025, yang seluruhnya menunjukkan hasil yang sama. Keenamnya adalah Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa (European Center for Medium Range Weather Forecasts/ECMWF), Badan Meterologi Jepang, NASA, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (US National Oceanic and Atmospheric Administration/NOAA), Kantor Meterologi Inggris yang berkolaborasi dengan Unit Riset Iklim Universitas East Anglia (HadCRUT), serta Berkeley Earth.

Melewati tahun kritis iklim 2024 tentu saja membuat kita harus semakin waspada untuk melakukan upaya dalam menangani krisis iklim yang semakin meningkat. Apalagi, perubahan iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup manusia dan seluruh ekosistem di bumi. Selain peningkatan suhu bumi yang melampaui 1,5 derajat Celcius pada tahun 2024, dampak negatifnya telah dirasakan di berbagai belahan dunia, mulai dari peningkatan suhu ekstrem, bencana alam yang semakin sering terjadi, hingga kenaikan permukaan air laut. Oleh karena itu, mitigasi perubahan iklim menjadi langkah krusial yang harus dilakukan secara global.

Apa Itu Mitigasi Iklim?

Mitigasi iklim adalah upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) yang menjadi penyebab utama pemanasan global. GRK, seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrogen oksida (N2O), memerangkap panas di atmosfer sehingga menyebabkan suhu Bumi meningkat.

Tujuan utama mitigasi iklim adalah untuk menstabilkan konsentrasi GRK di atmosfer pada tingkat yang aman, sehingga mencegah gangguan iklim yang berbahaya. Hal ini sesuai dengan tujuan Perjanjian Paris, yaitu membatasi kenaikan suhu rata-rata global di bawah 2 derajat Celsius, dan mengupayakan pembatasan hingga 1,5 derajat Celsius dibandingkan tingkat pra-industri.

Mengapa Mitigasi Iklim Penting?

Mitigasi iklim menjadi sangat penting dalam rangka mencegah dampak yang lebih buruk dari pemanasan global, seperti:

  • Kenaikan permukaan air laut, yakni mencairnya es di kutub dan perluasan termal air laut dapat menenggelamkan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
  • Bencana alam yang lebih sering dan ekstrem, seperti gelombang panas, kekeringan, banjir, dan badai akan semakin sering terjadi dengan intensitas yang lebih tinggi.
  • Gangguan pada sektor pertanian dan ketahanan pangan, dimana perubahan pola curah hujan dan suhu dapat menurunkan produktivitas pertanian dan menyebabkan kelangkaan pangan.
  • Kepunahan keanekaragaman hayati, bahwa banyak spesies hewan dan tumbuhan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan iklim yang cepat, sehingga terancam punah.
  • Dampak kesehatan pada manusia, dimana gelombang panas ekstrem, polusi udara, dan penyebaran penyakit menular dapat mengancam kesehatan manusia.

NDC, NZE dan Strategi Mitigasi Iklim

Meskipun setiap negara menghadapi kerentanan iklim yang berbeda, sehingga dibutuhkan strategi mitigasi yang berbeda pula. Namun, karena perubahan iklim berdampak sama secara global, maka strategi mitigasi bisa dilakukan sesuai dengan kondisi masing-masing negara. Indonesia sebagai negara maritim dan kepulauan misalnya, tentu saja perlu membangun strategi mitigasi iklim yang berbeda dengan negara-negara landlock di wilayah Asia Tengah, dan wilayah lainnya.

Mitigasi perubahan iklim sebagai upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) bisa dilakukan di tingkat mikro (individu, keluarga, dan kelompok sosial) melalui perubahan gaya hidup rendah karbon, tingkat meso (organisasi dan perusahaan) melalui perubahan propa produksi dan penggunaan energi baru dan terbarukan, maupun tingkat makro (negara dan global).

Di tingkat makro, Pemerintah Indonesia sudah mempunyai kebijakan mitigasi iklim tingkat makro melalui target Nationally Determined Contributions (NDC) 2030 dan Net Zero Emission (NZE) 2060. Dalam Enhanced NDC 2022, Indonesia sudah menetapkan target NDC sebesar 31,89% dengan usaha sendiri (unconditionally) dan 43,20% dengan dukungan internasional (conditionally).

NDC Indonesia mencakup lima sektor penting yakni, energi (12,5% conditionally dan 15,5% unconditionally), limbah (1,4% conditionally dan 1,5% unconditionally), IPPU (0,2% conditionally dan 0,3% unconditionally), pertanian (0,3% conditionally dan 0,4% unconditionally), dan FOLU/Kehutanan (17,4% conditionally dan 24,4% unconditionally). Terlihat bahwa sektor FOLU dan energi menjadi sektor dengan target pengurangan emisi terbesar.

Secara umum, strategi mitigasi iklim bisa dilakukan sebagai berikut:

  1. Transisi ke Energi Terbarukan. Hal ini dilakukan dengan menggantikan bahan bakar fosil dengan energi bersih seperti tenaga surya, angin, air, dan panas bumi. Selain itu, transisi energi bisa meningkatkan efisiensi energi di berbagai sektor, termasuk industri, transportasi, dan rumah tangga.
  2. Pengelolaan Hutan dan Lahan. Strategi ini dilakukan dengan menghentikan deforestasi dan melakukan reboisasi untuk meningkatkan penyerapan CO2 oleh hutan, serta menerapkan praktik pertanian berkelanjutan yang mengurangi emisi GRK dan meningkatkan penyimpanan karbon di tanah. Pemerintah Indonesia sudah mempunyai FOLU Net Sink sebagai pendekatan dan kebijakan dalam mitigasi iklim sektor FOLU.
  3. Transportasi Berkelanjutan. Pemerintah bisa memperkuatpenggunaan transportasi umum, sepeda, dan berjalan kaki, serta melahirkan kebijakan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi. Selain itu, pengembangan kendaraan listrik dan bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan merupakan pilihan yang paling tepat ke depan.
  4. Industri Berkelanjutan. Hal ini dilakukan dengan menerapkan teknologi produksi yang lebih bersih dan efisien, dan mengurangi limbah dan menerapkan prinsip ekonomi sirkular dalam proses produksi.
  5. Pengelolaan Sampah. Pemerintah dan para pemangku kepentingan perlu melakukan mitigasi dengan cara mengurangi produksi sampah dan meningkatkan daur ulang, serta mengelola sampah organik dengan baik untuk mengurangi emisi metana.

Tantangan dalam Mitigasi Iklim

Tantangan dalam mitigasi iklim adalah bagaimana memperkuat komitmen pemerintah dan sektor swasta untuk melukukan semua upaya yang diperlukan dalam rangka mengurangi emisi dalam rangka mencapai target NDC 2030 dan NZE 2060. Seringkali, aktor-aktor pemerintah tidak mempunyai kesandaran bagus untuk memperkuat upaya mitigasi iklim ini dan hanya berfokus pada pilihan pragmatis untuk mengejar pertumbuhan ekonomi berbasis pada energi fosil yang kotor dan memicu krisis iklim.

Di sisi lain, kesadaran dan dukungan sektor swasta untuk memperkuat mitigasi iklim dalam setiap rantai pasok juga perlu diperkuat. Kesadaran untuk menerapkan pendekatan ESG (Environment, Social and Governance) masih terbatas pada sebagian korporasi besar saja. Sebagian korporasi lainnya masih sangat lemah dalam memenuhi standar-standar keberlanjutan sebagai strategi mitigasi iklim. Apalagi untuk industri ekstraktif seperti pertambangan, dan industri berbasis lahan seperti kehutanan, upaya menerapkan ESG sebagai strategi mitigasi iklim masih jauh panggang dari api.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Pertanyaan ini perlu kita jawab masing-masing, sebagai individu atau organisasi, sesuai kapasitas kita dalam menjangkau ruang perubahan untuk memperkuat upaya mitigasi iklim ke depan. (Admin)