SAAT kita membaca berita tentang iklim, sedikit sekali yang menampilkan kemajuan dan harapan di tengah negara-negara berlomba untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi. Saat upaya pertumbuhan ekonomi dikejar, maka resiko terjadi peningkatan emisi adalah sebuah konsekuensi. Padahal, mitigasi perubahan iklim dalam rangka mencapai NZE tahun 2050/2060 mensyaratkan adanya upaya dalam mengerem laju pertumbuhan emisi.

Di tengah kecemasan tersebut, sebuah lembaga think tank dari Inggris, Ember, dalam laporannya baru-baru ini, secara terbuka menyatakan tujuannya “untuk mempercepat transisi energi bersih melalui data dan kebijakan.” Namun, laporan berhalaman 36 tersebut minim kontroversi dan dipenuhi dengan data teknis yang sangat mendalam. Itulah sebabnya, meskipun laporan tersebut mendapat liputan di media utama di Eropa, ia mungkin terlewatkan dalam pembahasan iklim oleh banyak pengambil kebijakan.

Ember mencatat bagaimana permintaan dan konsumsi energi global untuk paruh pertama tahun 2025 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024. Hasil yang paling menonjol adalah bahwa pembangkitan listrik dari tenaga angin dan surya tumbuh dengan laju lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan peningkatan permintaan secara keseluruhan, tepatnya sebesar 109 persen.

Selama periode yang sama, pembangkit listrik berbahan bakar batu bara menurun sedikit sebesar 0,06 persen, sementara energi surya dan angin meningkat sebesar 7,7 persen. Hal ini menghasilkan kesimpulan: “Akibatnya, pangsa energi terbarukan dalam produksi listrik global naik menjadi 34,3 persen (naik dari 32,7 persen), sedangkan pangsa batu bara turun menjadi 33,1 persen (turun dari 34,2 persen).”

Dengan kata lain, untuk pertama kalinya, energi listrik yang dihasilkan dari sumber energi terbarukan melebihi jumlah yang dihasilkan dari batu bara. Ember menyebut ini sebagai “titik balik yang krusial” dan “awal dari pergeseran di mana energi bersih mulai sejalan dengan pertumbuhan permintaan.”

Laporan tersebut setidaknya menunjukkan bahwa energi terbarukan merupakan alternatif yang layak untuk bahan bakar fosil, bukan sekadar mimpi indah yang liberal, ramah lingkungan, atau bagian dari Green New Deal.

Pertumbuhan produksi energi surya sangat menonjol. Setidaknya tujuh negara menghasilkan 20 persen atau lebih dari total energi mereka dari tenaga surya pada paruh pertama tahun 2025, dengan Hungaria memimpin dengan 30 persen, disusul oleh Yunani dan Belanda masing-masing dengan 25 persen.

Laporan Ember menyoroti pemain utama di sektor energi — China, India, Uni Eropa, dan Amerika Serikat — yang bersama-sama menyumbang 63 persen dari permintaan energi global dan 64 persen dari emisi CO2 selama paruh pertama tahun 2025.

Perubahan trend dalam konsumsi energi ini tentu merupakan kondisi positif yang memberi sedikit harapan bahwa upaya mitigasi krisis iklim mulai direspon secara lebih baik oleh sejumlah negara, khususnya dalam transisi energi baru dan terbarukan. (redaksi)