PP Muhammadiyah meluncurkan buku Fikih Transisi Energi Berkeadilandi Jakarta, 19 Februari 2025. Buku ini mengulas berbagai hal terkait dengan perlunya transisi energi dari energi fosil kepada energi baru dan terbarukan. Sejumlah hal diulas dalam buku ini secara mendalam, antara lain tantangan transisi energi yang berkeadilan, pandangan Islam terhadap transisi energi berkeadilan, dasar-dasar nilai Islam terkait transisi energi berkeadilan, serta sejumlah aspek prinsipil lainnya.

..target bauran energi Indonesia 2025 sebesar 23% hanya tercapai 13,21% tahun 2023.

Direktur Eksekutif Muhammadiyah Climate Centre (MCC) Dr. Agus S. Djamil, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, saat membuka acara tersebut menyampaikan bahwa peluncuran buku ini merupakan salah satu upaya untuk memperkuat transisi energi di tengah tantangan krisis iklim yang kita hadapi dewasa ini. “Bersama pemerintah dan parapihak, Muhammadiyah terus berkomitmen dalam memperkuat transisi energi untuk penanganan krisis iklim”, tegas Dr. Agus.

Buku Fikih Transisi Energi Berkeadilan

Hal senada disampaikan Koordinator Nasional Greenfaith Indonesia, Hening Parlan, yang juga merupakan salah satu penulis buku tesebut. Hening mengatakan bahwa tantangan transisi energi yang dilakukan pemerintah dan semua pihak harus memperhatikan dimensi keadilan. Jadi, transisi energi harus berkeadilan. Hening menegaskan bahwa transisi energi bisa dilakukan dalam skala kecil, termasuk dalam kehidupan kita sehari-hari dengan menghemat energi.

Pejabat Kementerian ESDM yang hadir dalam kegiatan tersebut menyebutkan bahwa pemerintah saat ini fokus pada konservasi energi, selain memperkuat transisi energi baru dan terbarukan (EBT). Tantangannya adalah masih lemahnya investasi sektor EBT di Indonesia.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Rumah Berkelanjutan (RB), Dr. Yusdinur, dalam acara tersebut menyampaikan bahwa tantangan transisi energi Indonesia sangat berat. Apalagi target bauran energi Indonesia 2025 sebesar 23% hanya tercapai 13,21% tahun 2023. Di sisi lain, target NDC 2030 sektor energi sebesar 12,5% (unconditional) dan 15,5% (conditional) juga tidak mudah tercapai. “Karena itu, dibutuhkan upaya yang lebih kuat oleh pemerintah, sektor swasta dan semua pihak untuk transisi energi ini. Ini kita belum bicara target net zero emission 2060”, tambah Dr. Yusdi.

Terlepas dari perdebatan dan tantangan dalam transisi energi, kehadiran buku Fikih Transisi Energi Berkeadilan memperkaya khasanah keilmuan dan panduan praktis, khususnya di kalangan umat Islam, dalam upaya memperkuat transisi energi dalam rangka menghadapi krisis iklim dewasa ini dan ke depan. (Tim media RB)