Oleh Mahdi dan Maya Tamara

Krisis iklim merupakan salah satu tantangan berat yang kita hadapi hari ini dan kedepan. Semua pihak, semua bangsa, dan semua pemangku kepentingan global berkejaran dengan waktu dalam merespon krisis iklim ini. Mengapa, karena kehidupan terus berlangsung dan produksi emisi dari aktivitas manusia akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi manusia di bumi.

Karena itu, berbagai upaya untuk mewujudkan net zero emission pada pertengahan abad ini (2050) harus dilakukan, supaya kita bisa menahan laju kenaikan suhu rata-rata global jauh di bawah 2°C di atas tingkat pra-industri dan mengupayakan untuk membatasi kenaikan suhu hingga 1,5°C, seperti tercantum dalam Perjanjian Paris 2015.

Bencana Iklim

Pertengahan abad 21 hanya tinggal 25 tahun lagi. Jika kita gagal mencapai net zero emission, maka bencana iklim akan hadir dan mengancam kehidupan kita semua. Apa saja potensi bencana iklim yang akan kita hadapi? Pertama, meningkatnya cuaca ekstrem, termasuk gelombang panas, kekeringan, banjir, kebakaran hutan, dan badai yang lebih sering dan intens. Peristiwa-peristiwa ini dapat menyebabkan kerusakan properti yang meluas, perpindahan penduduk, dan hilangnya nyawa.

Kedua, kenaikan permukaan air laut, dimana saat suhu global naik, gletser dan lapisan es mencair, dan air laut mengembang. Hal ini menyebabkan kenaikan permukaan laut, yang mengancam masyarakat dan infrastruktur pesisir. Ketiga, gangguan ekosistem, bahwa perubahan iklim dapat mengganggu ekosistem yang rapuh, menyebabkan kepunahan spesies, hilangnya keanekaragaman hayati, dan kerusakan sumber daya alam.

Keempat, kelangkaan pangan dan air. Perubahan suhu dan pola curah hujan dapat mempengaruhi hasil pertanian, menyebabkan kekurangan pangan. Selain itu, kekeringan dan perubahan ketersediaan air dapat menyebabkan kelangkaan air.

Dan kelima, bencana iklim yang paling berat adalah krisis kemanusiaan yang melahirkan konflik sosial, perang untuk perebutan sumberdaya langka, migrasi massal, dan penyebaran wabah penyakit yang berpotensi mengurangi populasi manusia di muka bumi.

Kerentanan Secara Ekonomi

Kerentanan secara ekonomi memang belum banyak diperhitungkan, kecuali masih sekedar analisis terhadap pertumbuhan ekonomi. Para ekonomi misalnya sudah ada yang menghitung bahwa perubahan iklim akan menurunkan sekian persen PDB. Namun demikian, jika kita menganalisis secara lebih luas, krisis iklim akan melahirkan kerentanan secara ekonomi dalam berbagai bentuk.

Pertama, penurunan produksi sektor pertanian dan perikanan. Perubahan suhu dan pola hujan yang tidak menentu dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, menyebabkan penurunan hasil panen. Banjir dan kekeringan yang lebih sering terjadi dapat merusak lahan pertanian dan infrastruktur irigasi. Begitu juga untuk sektor perikanan, dimana perubahan suhu air laut dan peningkatan keasaman dapat mengganggu ekosistem laut, berdampak pada stok ikan dan hasil tangkapan. Secara ekonomi, penurunan produksi pertanian dan perikanan dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi petani, nelayan, dan pelaku usaha di sektor terkait. Kenaikan harga pangan akibat penurunan produksi dapat meningkatkan inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat.

Kedua, kerusakan infrastruktur dan aset yang disebabkan oleh bencana dan kenaikan permukaan air laut. Peningkatan frekuensi dan intensitas bencana alam seperti banjir, badai, dan kekeringan dapat menyebabkan kerusakan infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan bangunan. Kerusakan infrastruktur dapat mengganggu aktivitas ekonomi, menghambat distribusi barang dan jasa, serta meningkatkan biaya perbaikan.

Sementara kenaikan permukaan air laut dapat mengancam wilayah pesisir, menyebabkan erosi pantai, intrusi air asin, dan kerusakan infrastruktur pesisir. Wilayah pesisir yang rentan terhadap kenaikan permukaan air laut dapat mengalami kerugian ekonomi akibat kerusakan aset dan hilangnya lahan produktif.

Ketiga, gangguan ekonomi sektor pariwisata. Perubahan iklim ekstrem seperti gelombang panas, badai, dan banjir dapat mengganggu aktivitas pariwisata, mengurangi kunjungan wisatawan, dan menurunkan pendapatan sektor pariwisata. Demikian juga perubahan iklim dapat menyebabkan kerusakan lingkungan seperti terumbu karang yang memutih, hilangnya keanekaragaman hayati, dan kerusakan ekosistem pesisir, yang dapat mengurangi daya tarik wisata alam.

Keempat, dampak ekonomi dari penurunan kesehatan. Perubahan iklim dapat meningkatkan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti malaria dan demam berdarah. Gelombang panas yang lebih sering terjadi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan pernapasan. Kondisi kesehatan masyarakat yang menurun dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi karena penurunan produktivitas tenaga kerja.

Kelima, dampak pada stabilitas keuangan. Peningkatan frekuensi dan intensitas bencana alam dapat meningkatkan risiko bagi perusahaan asuransi, menyebabkan kenaikan premi asuransi atau bahkan penolakan klaim. Dari sisi investasi, perubahan iklim dapat menciptakan ketidakpastian ekonomi, mengurangi minat investor untuk berinvestasi di sektor-sektor yang rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Kerentanan Secara Sosial

Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan dan ekonomi, tetapi juga pada kerentanan sosial masyarakat. Pertama, perubahan iklim melahirkan kerentanan pada kelompok marjinal. Kelompok masyarakat marjinal cenderung merupakan yang paling rentan, seperti masyarakat miskin, masyarakat adat, dan kelompok minoritas. Mereka memiliki sumber daya yang terbatas untuk beradaptasi dengan perubahan iklim, sehingga kerentanan mereka semakin meningkat.

Kedua, krisis iklim melahirkan ketidakadilan iklim (climate injustice). Negara-negara maju yang memiliki emisi gas rumah kaca tertinggi seringkali kurang merasakan dampak perubahan iklim dibandingkan negara-negara berkembang yang memiliki emisi lebih rendah. Hal ini menciptakan ketidakadilan iklim, di mana kelompok masyarakat yang paling sedikit berkontribusi terhadap perubahan iklim justru paling menderita akibat dampaknya.

Ketiga, terjadinya migrasi skala besar. Bencana alam yang semakin sering terjadi, seperti banjir, kekeringan, dan badai, dapat memaksa masyarakat untuk meninggalkan tempat tinggal mereka. Kenaikan permukaan air laut juga dapat menyebabkan pengungsian massal dari wilayah pesisir. Migrasi dan pengungsian akibat perubahan iklim dapat menyebabkan konflik sosial antara pengungsi dan masyarakat setempat, terutama jika sumber daya di lokasi baru terbatas.

Keempat, meningkatnya kerentanan kelompok-kelompon rentan iklim. Kelompok-kelompok sosial yang rentan iklim adalah (1) perempuan, dimana perempuan seringkali lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim karena peran mereka dalam produksi pangan dan pengelolaan sumber daya alam. Mereka juga lebih rentan terhadap kekerasan dan eksploitasi dalam situasi pengungsian. (2) anak-anak, dimana mereka anak sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim karena sistem kekebalan tubuh mereka yang belum sempurna dan kebutuhan gizi mereka yang tinggi. Mereka juga rentan terhadap dampak psikologis dari bencana alam dan kehilangan tempat tinggal. (3) masyarakat adat. Masyarakat adat sangat bergantung pada sumberdaya alam di lingkungan mereka untuk kebutuhan mata pencaharian dan budaya mereka. Perubahan iklim dapat mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat dan merusak warisan budaya mereka.

Apa Itu Adaptasi Iklim?

Adaptasi iklim merupakan upaya, strategi, kebijakan, dan aksi dalam memperkuat ketahanan individu, kelompok, organisasi, dan negara terhadap dampak buruk krisis iklim. Secara lebih sederhana, adaptasi iklim juga dimaksudkan sebagai proses penyesuaian diri terhadap dampak perubahan iklim. Adaptasi iklim dibutuhkan sebagai strategi untuk mengurangi dampak negatif perubahan iklim yang dapat meningkatkan kerentanan secara ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Pentingnya Adaptasi Iklim

Mengapa adaptasi perubahan iklim menjadi penting? Karena adaptasi iklim merupakan salah satu strategi dalam mengurangi kerentanan, disamping mitigasi iklim. Adaptasi dapat mengurangi kerugian ekonomi, sosial, dan lingkungan akibat bencana alam dan dampak perubahan iklim lainnya. Adaptasi dapat meningkatkan ketahanan masyarakat dan ekosistem terhadap guncangan iklim. Di sisi lain, adaptasi dapat menciptakan peluang baru, seperti pengembangan teknologi dan praktik pertanian yang lebih tahan iklim.

Krisis Iklim dan Strategi Adaptasi

Strategi adaptasi iklim dapat dilakukan pada berbagai sektor yang mempunyai kerentanan tinggi terhadap perubahan iklim, seperti pertanian, sumberdaya air, infrastruktur, pesisir, dan ekosistem darat (hutan dan lahan).  

Pertama, strategi adaptasi iklim sektor pertanian. Adaptasi sektor pertanian menjadi sangat penting untuk memastikan ketahanan dan kemandirian pangan masyarakat. Jangan sampai perubahan iklim dapat mengganggu ketahanan dan kemandirian pangan, yang akan melahirkan kelaparan massal. Beberapa strategi adaptasi iklim sektor pertanian untuk ketahanan dan kemandirian pangan adalah:

  1. Mengembangkan varietas tanaman dan hewan yang tahan kekeringan, banjir, dan suhu ekstrem.
  2. Menerapkan praktik pertanian konservasi yang menjaga kesuburan tanah dan mengurangi erosi.
  3. Memperkuat sistem irigasi dan pengelolaan air untuk menghadapi kekeringan.

Kedua, strategi adaptasi iklim sektor sumberdaya air. Air menjadi kebutuhan primer dalam kehidupan kita. Kebutuhan air bukan saja untuk konsumsi dan rumah tangga, melainkan untuk mendukung sistem pertanian. Strategi adaptasi sektor sumberdaya air yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Membangun infrastruktur penyimpanan air, seperti waduk, embung dan sumur resapan.
  2. Menerapkan pengelolaan air terpadu yang efisien dan berkelanjutan.
  3. Melindungi sumber air dari pencemaran dan intrusi air laut.

Ketiga, strategi adaptasi iklim untuk wilayah pesisir. Wilayah pesisir sangat rentan terhadap perubahan iklim, baik secara lingkungan maupun sosial. Masyarakat pesisir akan menjadi kelompok masyarakat paling rentan yang merasakan dampak krisis iklim. Karena itu, perlu adanya strategi adaptasi iklim untuk wilayah pesisir:

  1. Membangun tanggul dan tembok laut untuk melindungi wilayah pesisir dari kenaikan permukaan air laut.
  2. Memulihkan ekosistem mangrove dan terumbu karang yang berfungsi sebagai pelindung alami.
  3. Menata ruang wilayah pesisir dengan mempertimbangkan risiko kenaikan permukaan air laut.

Keempat, strategi adaptasi untuk sektor infrastruktur. Krisis iklim melahirkan berbagai bencana yang akan berpotensi merusak berbagai infrastruktur publik dan perumahan masyarakat. Karena itu, dibutuhkan strategi adaptasi untuk sektor infrastruktur, yakni:

  1. Membangun infrastruktur yang tahan terhadap bencana alam dan perubahan iklim, seperti jembatan dan jalan yang lebih kuat.
  2. Menerapkan desain bangunan yang hemat energi dan tahan terhadap suhu ekstrem.
  3. Memperkuat jaringan listrik dan telekomunikasi untuk menghadapi gangguan akibat cuaca ekstrem.

Kelima, strategi adaptasi sektor hutan, lahan, dan ekosistem. Krisis iklim dapat secara langsung berpengaruh pada kerusakan sektor hutan, lahan dan ekosistem, seperti kebakaran hutan, kerusakan keanekaragaman hayati, dan sebagainya. Strategi adaptasi iklim untuk sektor ini antara lain:

  1. Memperkuat penerapan Sustainable Forest Management (SFM) dalam rantai nilai bisnis kehutanan.
  2. Melindungi dan memulihkan ekosistem alami, seperti hutan alam dan lahan basah, yang berfungsi sebagai penyangga terhadap dampak perubahan iklim.
  3. Membangun koridor ekologis untuk memfasilitasi pergerakan spesies yang beradaptasi dengan perubahan iklim.
  4. Mengendalikan spesies invasif yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.

Keenam, strategi adaptasi iklim untuk sektor kesehatan masyarkaat. Krisis iklim akan melahirkan kerentanan terhadap kesehatan masyarakat, berkembangnya berbagai penyakit, dan bencana alam yang menyebabkan kerusakan sanitasi dan sumber air bersih. Strategi adaptasi iklim yang dapat dilakukan adalah:

  1. Meningkatkan sistem kewaspadaan dini terhadap penyakit yang terkait dengan perubahan iklim, seperti demam berdarah dan malaria.
  2. Memperkuat sistem pelayanan kesehatan untuk menghadapi gelombang panas dan bencana alam.
  3. Meningkatkan akses air bersih dan sanitasi untuk mencegah penyebaran penyakit.

Mempertanyakan Komitmen Adaptasi Iklim

Melihat pentingnya adaptasi iklim untuk meningkatkan ketahanan dan mengurangi kerentanan, maka dibutuhkan komitmen pemerintah dan semua pemangku kepentingan untuk memperkuat upaya adaptasi iklim ini.

Di tingkat global, para pemangku kepentingan sudah membuat komitmen kuat untuk adaptasi perubahan iklim ini. Diantaranya adalah lahirnya Perjanjian Paris yang menekankan pentingnya adaptasi sebagai komponen utama dari respons global terhadap perubahan iklim. Karena itu, negara-negara pihak berkomitmen untuk meningkatkan kemampuan adaptasi, memperkuat ketahanan, dan mengurangi kerentanan terhadap perubahan iklim.

Di tingkat nasional, Pemerintah Indonesia sudah meratifikasi Perjanjian Paris melalui UU No. 16 Tahun 2016. Indonesia juga sudah mempunyai komitmen melalui NDC 2030, dimana dalam Enhanced NDC 2022, Indonesia sudah menetapkan target NDC sebesar 31,89% dengan usaha sendiri (unconditionally) dan 43,20% dengan dukungan internasional (conditionally). Secara lebih jauh, Indonesia sudah mempunyai komitmen untuk mencapai target Net Zero Emission tahun 2060. Komitmen penurunan emisi ini juga diikuti oleh strategi adaptasi yang sudah disusun pemerintah.

Di tingkat lokal, secara ideal, pemerintah daerah seharusnya sudah menyusun rencana aksi adaptasi untuk mengatasi dampak iklim yang spesifik di wilayah mereka. Penyusunan ini harus dilakukan secara partisipatif dalam identifikasi risiko dan pengembangan solusi adaptasi.

Bagaimana komitmen sektor swasta? Komitmen korporasi dapat dilihat dari strategi perusahaan-perusahaan mengintegrasikan risiko iklim ke dalam perencanaan bisnis dan operasional mereka. Penerapan ESG (Environment, Social, and Governance) dan standar-standar keberlanjutan juga merupakan bagian dari komitmen ini.

Yang menjadi pertanyaan, apakah komitmen adaptasi di tingkat global, nasional dan lokal sudah dijalankan dengan baik? Apakah komitmen adaptasi iklim sektor swasta sudah dilakukan secara sungguh-sungguh? Pertanyaan-pertanyaan kritis ini akan kita bahas dalam artikel yang lain. (Admin)